LINGUISTIK UNTUK DESTINASI WISATA (LINGUISTICS for TOURISM)
By; Dr. Inayatul Mukarromah.,S.S.M.Pd
Dosen Sosiolinguistik Pasca Sarjana UIN Khas Jember
Bahasa, pariwisata dan budaya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Pentingnya bahasa di dunia pariwisata karena bahasa memiliki peranan penting bukan hanya
dari hal yang paling mendasar saja tetapi juga terhadap hal yang dianggap rumit. Contoh
yang sangat sederhana dari hal yang berkaitan dengan promosi wisata baik yang promosikan
melalui brosur atau sosial media juga memerlukan Bahasa. Para tenaga pemandu wisata atau
Guiding juga memerlukan keterampilan berbahasa dengan baik bahkan para stake holder dan
masyarakat dekat Kawasan wisata terutama yang bisa menikmati adanya dampak positive
dari pariwisata.
Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara, menulis, atau bahkan melalui gerakan tubuh
dan juga simbol- simbol bahasa seperti gambar, suara musik dan lainnya.
SFL atau dikenal dengan Systemic Functional linguistics. Halliday (1994) “language
is semiotic”. Dengan dengan demikian SFL bisa dianaisis melalui bahasa berdasarkan
fungsinya. Bahasa itu sendiri adalah multimodal sehingga analisis suatu bahasa tidak hanya
berdasar pada ucapan, tulisan tetapi analisis bahasa juga berupa gambar dan lainnya karena
bahasa bisa digabungkan antara pesan verbal dan non-verbal.
Penggunaan nama suatu objek wisata yang meliputi wisata alam, wisata budaya,
seni,tradisi, wisata kuliner, kerajinan tangan dan lainnya juga berkaitan dengan bahasa yang
terkadang memiliki makna dalam sejarahnya.
Linguistik dan pariwisata bisa saling mendukung. Karena keduanya didukung oleh
berbagai multidispliner bidang keilmuan. Peran linguistik dibutuhkan terutama berkaitan
dengan bagaimana linguistik baik mikro maupun makro yang meliputi struktur kata, frasa,
klausa dan kalimat visual dan audio, sosial dan budayanya. Misalnya hal yang berkaitan
dengan kohesi. Kohesi yang bisa dipahami oleh para wisatawan. Hal yang mendasar tentang
kohesi juga bisa membantu untuk promosi wisata baik melalui sosial media, brosur atau
melalui instrument lainnya. Pemilihan kata tersebut dibuat semenarik mungkin sehingga bisa
menambah daya tarik para wisatawan untuk berkunjung ke destinasi tersebut. Peran Systemic
functional linguistics yang mencangkup kajian Semiotik dan atau multimodal sangat penting
dalam promosi destinasi wisata.
Seperti misalnya kohesinya yang menarik, meta function dan figurative language
yang menarik yang membawa pesan makna mendalam bagi wisatawan untuk segera datang
ke destinasi wisata tersebut. Penyajian gambar-gambar yang menarik tentang suatu objek
destinasi dengan dikombonasi paket-paket wisata serta dengan padaan bahasa penyampaian
promosi yang menarik.
Morfologi pada nama Destinasi Wisata. McMannis ( 1998; 117), “ Morphology is the
study of how words are structured and how they are put together from smaller parts “.
Dijelaskan bagaiamana derivation, affixation, inflection , internal change, Suplletion,
Compunding , back formation, blending, compounding, internal change, acronym itu
terbentuk.
Sehingga teori ini dapat diterapkan pada promosi wisata antara lain nama- nama
objek destinasi serta nama produk-produk yang dihasilkan terutama pada setiap UMKM di
masyarakat.
Sintaksis dan Struktur gramatikal dalam Promosi Destinasi Wisata . McMannis (1998:
153), sintaksis is “ the study of the structure of sentences. It attempts to uncover the
underlying principles, or rules for constructing well – formed sentence of a particular
language “. Pendapat ini juga dipertegas oleh Dann ( 1996), dimana wacana dalam
kepariwisataan secara umum menunjukkan beberapa ciri khas dan struktur antara lain;
Banyak memiliki pola struktur yang spesifik, menggunakan adjectiva, secara semantik
memiimliki pesan promosi, berkaitan dengan symbol dan kode tertentu, dan elemen-elemen
dialek tertentu untk menarik perhatian.
Metapora merupakan gaya bahasa yang sangat tepat untuk digunakan sebagai
promosi destinasi wisata. Karena penggunaan metafora yang termasuk dalam figurative
language bisa menjadi personifikasi dari simile ( Richard et al., 1989 : 105) . dalam kaitannya
dengan promosi destinasi wisata.
Metafora dalam promosi destinasi wisata melalui brosur dan sosial media banyak
digunakan. Misalnya Jember kota tembakau, Banyuwangi kota Blambangan, Banyuwangi
kota gandrung. Disamping itu metafora- metafora baru terkadang muncul dan itu sengaja
dibuat oleh masyarakat. Tujuannya yaitu pertama, agar dengan metafora tersebut lebih
banyak menarik para wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata. Kedua, untuk
memberikan kesan yang menarik, unik tentang gambaran keindahan dari objek- objek
destinasi wisata tersebut.
Contoh dalam metafora yang menggambarkan keindahan pesona alam, seni, budaya,
sejarah dan lainnya. Misal : saya sangat takjub dan hampir tidak bisa berkata-kata pada saat
kupandang tiga gambar segitiga berlian tersebut. Segitiga berlian adalah nama suatu
destinasi wisata alam yang meliputi Gunung Ijen, Sukamade dan Pelengkung. Gunung Ijen
adalah wilayah yang berbatasan antara Banyuwangi dan Bondowoso sementara Sukamade
adalah wilayah destinasi alam yang berbatasan dengan Banyuwangi dan Jember.
Banyuwangi, Bondowoso dan Jember merupakan wilayah tapal kuda yang sangat menarik
untuk dikunjungi. Sementara di puncak Pesona alam gunung ijen saya menemukan si
cantik berwarna putih yang tumbuh diseputaran Gunung Ijen. Dan sayapun hanya bisa
melihat tapi tidak bisa mengambilnya. Si putih yang terdapat di lereng gunung ijen itu tidak
lain adalah bunga edelweis . Sehingga kalimat- kalimat seperti ini terkadang sering muncul
dalam tulisan- tulisan dalam bentuk promosi wisata.
Kutipan bahasa yang digunakan dalam mempromosi destinasi wisata serti “ Segitiiga
berlian”. Pada ungkapan frasa segitiga berlian merupakan ungkapan untuk membuat rasa
penasaran terutama pada para wisatawan tentang apa yang dimaksud segitiga berlian tersebut
dan terdapat apa saja pada destinasi-destinasi tersebut mengingat berlian merupakan level
tertinggi suatu barang dan juga memilki kesan yang sangat bagus, menarik serta memiliki
nilia jual yang mahal.
Dalam melakukan promosi wisata maka wacananya juga harus jelas tidak hanya berkaitan
dengan gaya bahasa seperyi metafore, hiperbola atau simile, tetapi juga kohesinya karena
antara ketiganya tersebut dipadu dengan gambar, brosur yang indah dan menarik dengan
tujuan untama yaitu untuk menarik imajinasi para wisatawan untuk semakin penasaran
terhadap destinasi wisata yang dipromosikan ( Dann, 1996).
Semiotika dalam kajian keilmuan linguitik secara makro memiliki peran yang sangat
penting terhadap promosi pariwisata. Karena pariwisata memerlukan promosi visual yang
menarik. Seperti hambat visual berikut ini. Sehingga ini masuk katagori linguitsik landscape
dimana didalamnya memiliki banyak pesan dan kesan yang bisa dianalisis melalui semiotik.
gambar tersebut dipadu dengan warna gunung, pohon, bisa menggambarkan keadaan dari
gunung tersebut sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Promosi wisata tidak hanya mempromosikan hal yang berkaitan dengan destinasi alam,
seni, budaya, adat tetapi kerajinan tangan bahkan kuliner juga merupakan destinasi wisata
yang bisa menjadi pilihan bagi para wisatawan. Dengan demikian jelas bahwa adanya
kemampuan bahasa yang baik dari sisi mikro maupun makro linguistik bisa membantu
perkembangan destinasi wisata.
Komentar
Posting Komentar