Desa Wisata tidak karena Simbol Penghargaan saja . By Dr. Inayatul Mukarromah.,S.S.,M.Pd

 



    Berdiskusi antara akademisi UIN Khas Jember, Kabid Budaya, Kabid Destinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Perangkat Desa dan  pengelola Dsa Wisata  


Predikat sebagai desa wisata yang maju, inspiratif  dan berkelanjutan merupakan idaman bagi setiap desa.Hal ini bisa menjadi pemicu bagi setiap desa dalam rangka mengejar untuk mendapatkan anugerah desa wisata tersebut menjadi desa yang diharapkan. Suatu desa wisata dikatakan sukses tidak hanya karena prestasinya atau seringnya mendapatkan penghargaan baik mendapat anugerah dari  tingkat daerah, nasional maupun Internasional dan anugerah- anugerah lainnya. Akan tetapi desa yang maju dan mandiri adalah desa yang mampu berpihak pada ekonomi kerakyatan. Dimana masyarakat mampu merasakan dampak dari pembangunan dari desa wisata tersebut. 

Desa wisata terbagi atas tiga tingkatan antara lain; desa wisata rintisan, desa wisata berkembang dan desa wisata maju atau isnpiratif. Nama- nama tersebut dikaji secara bahasa hanyalah simbol dari bahasa dan sImbol-simbol tersebut memiliki makna yang berbeda.

 Pertama, Desa rintisan memiliki makna  bahwa desa tersebut adalah desa wisata yang masih pada tahapan  merintis dari desa yang belum masuk katagori desa wisata menjadi katagori desa wisata rintisan, kemudian masyarakat Bersama elemen-elemennya termasuk perangkat desa, masyarakat, Pokdarwis yang bermitra dengan Karangntaruna, Bumdes, BPDLBH dan lainnya mulai merintis desa wisata tersebut untuk menjadi desa wisata berkembang.

Kedua, desa berkembang merupakan desa yang mulai menggeliat dari segala aspek destinasi- destinasi wisatanya. Desa wisata berkembang biasanya selalu berinovasi untuk selalu meningkatkan kualitas dari desanya terutama pada sektor ekonominya.  Berbagi inovasi selalu diciptakan oleh masyarakat,  Pokdarwis yang bermitra dengan Karangntaruna, Bumdes, BPDLBH dan lainnya.  Inovasi tersebut berkaitan dengan mencari dan berupaya mengembangkan beberapa potensi di desanya seperti potensi alam, sejarah, kuliner, seni, budaya, bahasa, kerajinan dan lainnya. Desa berkembang bisanya mulai mengadakan studi banding ke desa- desa yang dianggap lebih maju dalam penataan ekonomi kepariwisataanya.  Termasuk studi banding ke desa- desa mandiri dan sukses.

Ketiga,  desa mandiri dan insipratif merupakan desa yang hampir bisa memenuhi kebutuhan masyarakatnya, bahkan desa tersebut bisa menjadi  desa inspiratif karena bisa menjadi  inspirasi bagi desa- desa lainnya terutama di desa yang terletak disekitar desa mandiri dan inspiratif . Hal yang paling sulit pada makna yang tersirat pada desa mandiri dan desa inspiratif adalah bagaiaman cara desa tersebut dan pelaku- pelaku wisata di desa tersebut mampu mempertahankan nama desa wisata mandiri dan inspiratif tersebut.     

Pariwisata adalah Entrepreneurship dan ekonomi kreatif. Maka dari itu  suatu desa menuju desa wisata sampai ke tahapan mandiri dan isnpiratif memerlukan waktu yang cukup lama dalam berjuang sehingga desa tersebut sangat tidak dikelola hanya dengan waktu yang sangat instant. Mulai daei pengelolaan kesadaran masyarakatnya, destinasi wisata dan lainnya. 

Pariwisata adalah kemitraan dan ini juga harus dikelola dengan kesadaran,kesabaran, keihklasan, kepedulian dan ini juga butuh waktu lama dalam pengelolaanya.  Kemitraan yang dimaksud dalam pengelonaan pariwisata di desa yaitu adanya kepengurusan yang jelas seperti Desa membentuk  Pokdarwi melalui musyawarah desa.  

Jangan pernah terburu- buru mengembangkan desa wisata hanya karena  ingin mendapatkan anugerah menjadi desa terbaik. Ini tujuan yang salah,jika tujuannya hanya ingin mendapatkan anugerah kemudian desa tersebut selanjutnya tidak dikelola dengan baik oleh elemen–elemen masyarakatnya. Maka dari itu mempertahankan jauh lenih sulit dari mengembangkan. Mempertahankan dan mengembangkan desa wisata dari  rintisan hingga maju dan inspiratif  adalah bagaimana  elemen- elemen masyarakat atau  pelaku wisata tersebut mampu mengelola destinasi desa wisata tersebut dengan baik. Seperti hal yang paling butuh perhatian adalah CHSE (Clean, Health, Safety dan Environment suitability). Karena hal pertama yang dilihat para wisatawan adalah  lingkungan meliputi aman tidak, bersih tidak, nyaman tidak , kedua, destinasi, destinasi ini meliputi; alam, budaya, seni, bahasa, kuliner dan kerajinan serta UMKM yang terdapat di desa tersebut.   

Antara CHSE dan Sapta Pesona sangat erat kaitanya. Sehingga hal ini jangan sampai wisatawan masuk ke wilayah desa masih ditemukan air got yang bau, saluran sungai yang dibuangi sampah oleh masyarakat, sampah berserakan dimana2, bau kotoran ternak dan lainnya, ini bisa menjadi pemandangan yang kurang nyaman bagi wisatawan dan ini bisa mengurangi Sense of Place dari destinasi wisata tersebut.

Sementara itu Ikon atau profile desa harus dimunculkan  karena bisa mencerminkan arsitektur  dari desa wisata tersebut. Seperti produk lokal yang dihasilkan masyarakat dan UMKM,pertanian dan  peternakan, perikanan, kehutanan.  Misalnya hal yang didapatkan dari   agrotourism yang meliputi ; produk buah lokal, sayur lokal, Bunga lokal yang dihasilkan dari pertanian warga. Produk lokal lainnya seperti cinderamata, produk garment yang meliputi; busana lokal, macam- macam batik cap, batik tulis dan eco print, kerajinan tangan dari bahan yang dihasilkan dari desa tersebut seperti kerajinan dari anyaman, bambu, kelapa dan lainnya. Sementara itu dari aspek eco-tourism meliputi berbagai jenis binantang peliharaan misalnya berbagai jenis nama dari kambing- kambing peliharaan atau domba serta sapi. Keduanya baik agrotourism maupun eco-tourism bisa di konsep menjadi paket wisata edukasi.

 Dari sisi transportasi adanya transportasi lokal yang disiapkan oleh masyarakat yang tergabung dalam asosiasi transportasi desa yang tujuannya membantu para wisatawan untuk berkeliling desa dan menikmati paket- paket destinasi yang disiapkan oleh desa wisata tersebut. Selain itu adanya homestay lokal yang menawarkan suasana desa dengan selalu mencerminkan adat dan budaya di desa .

Menciptakan dampak positive kepariwisataan khsususnya di desa- desa wisata haruslah diniati membangun demi keberlanjutan perekonomian dan eksistesi desa tersebut.  Membangun desa wisata yang berkelanjutan diperlukan komitmen yang jelas, perlunya  sistem kemitraan yang kuat misalnya Pokdarwis sebagai leading sektor yang dibentuk oleh desa melalui musyawarah desa.  Pokdarwis bisa kuat dalam membangun komitmen dan bekerja sama dan bisa bermitra dengan masyarakat, investorBumdes dan lainnya jika Pokdarwis tersebut sudah jelas Perdesnya. Karena dari Perdes tersebut Pokdarwis lebih memiliki kekuatan dalam mengelola desa menjadi desa wisata yang diinginkan.  Berdasarkan Perdes tersebut  juga Pokdarwis bisa kuat dalam bekerja sama dengan ,mitra- mitra lainnya yang memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mengembangkan desanya. Jika ada Perdes maka semua akan bisa transparan baik yang berkaitan dengan kemitraan , sharing profit dan lainnya. Pokdarwis juga diharapkan mampu melahirkan Champion Pariwisata seperti ; para penari lokal yang mencerminkan tarian ikon daerah, para pemandu wisata yang professional, para entrepreneur yang handal dan lainnya.

Upaya – upaya ini merupakan kiat desa wisata dalam mengembangkan desanya atau bahkan dalam mempertahankan desanya sesuai anugerah desa yang disandangnya. Sehingga Langkah ini lebih efektif dalam mengelola desa secara berkelanjutan. 

 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE COOPERATION IN THE DEVELOPMENT OF H2S TOURISM (HALAL, HYGIENIC, AND HEALTHY), THE DEVELOPMENT OF HERITAGE AND RELIGION TOURISM BETWEEN THE REGIONAL GOVERNMENT OF BANYUWANGI AND UIN KHAS JEMBER

H2S FOR TOURISM DEVELOPMENT IN BANYUWANGI ; by Dr. inayatul Mukarromah., S.S., M.Pd