By ; Dr. Inayatul Mukarromah.,S.S.M.Pd
Bicara pariwisata tidak bisa lepas dari Bahasa. Budaya, pariwisata dan Bahasa
merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Pentingnya Bahasa di dunia
pariwisata karena Bahasa memiliki peran penting dari hal yang mendasar hingga ke promosi
wisata. Penggunaan nama suatu objek wisata yang meliputi wisata alam, wisata
budaya, seni,tradisi , wisata kuliner dan wisata kerajinan tangan. Peran Bahasa dalam dunia
pariwisata tidak bisa dipandang remeh
karena pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Linguistik dan pariwisata bisa
saling mendukung terlebih didukung oleh
berbagai multidispliner bidang keilmuan.
Peran linguistik dibutuhkan
terutama hal yang berkaitan dengan bagaimana mengelola struktur kata, frasa, klausa dan kalimat.
Hal
yang berkaitan dg kohesi yang mampu
dipahami oleh para wisatawan sehingga
hal ini bisa membantu segala hal yang berkaitan dengan promosi wisata baik
melalui sosial media, brosur atau melalui instrument lainnya. Pemilihan kata dibuat semenarik bahkan
disiapkan metaphora dan lainnya sehingga hal ini bisa menambah daya Tarik para
wisatawan untuk berkunjung ke destinasi tersebut. Penyajian gambar- gambar yang
menarik tentang suatu objek destinasi dengan dikombonasi paket-paket wisata serta
dengan padaan Bahasa penyampaian promosi
yang menarik.
Morfologi pada
nama Destinasi Wisata
McMannis ( 1998;
117), “ Morphology is the study of how words are structured and how they are
put together from smaller parts “.
definisi ini menjelaskan bagaiamana
sebuah kata tersebut terbentuk seperti derivation, affixation, inflection , internal
change, Suplletion, Compunding , back formation, blending, compounding,
internal change, acronym.
Sehingga teori ini
dapat diterapkan pada promosi wisata
antara lain nama- nama objek destinasi serta nama produk- produk yang
dihasilkan terutama pada setiap UMKM di masyarakat.
Sintaksis dan
Struktur gramatikal dalam Promosi Destinasi Wisata
McMannis ( 1998: 153), sintaksis is “
the study of the structure of sentences. It attempts to uncover the
underlying principles, or rules for constructing well – formed sentence of a
particular language “. Pendapat ini juga dipertegas oleh Dann ( 1996) , wacana
dalam kepariwisataan secara umum menunjukkan beberapa ciri khas dan
struktur antara lian; Banyak memiliki
pola struktur yang spesifik, menggunakan adjectiva, secara semantic memiimliki
pesan promosi, berkaitan dengan symbol
dan kode tertentu, dan elemen- elemen dialek atau register tertentu untk
menarimperhatian.
Gaya Bahasa
untuk Promosi Wisata
Metapora merupakan gaya
bahasa yang sangat tepat untuk digunakan sebagai promosi destinasi wisata. Karena penggunaan metafora atau figurative language bisa menjadi
personifikasi dari simile ( Richard et al., 1989 : 105) . dalam kaitannya dengan promosi destinasi wisata yang terdapat di Banyuwangi.
Dalam kaitannya
dengan promosi destinasi wisata yang
terdapat di Banyuwangi. metafora banyak digunakan . Misalnya Banyuwangi Kota Blambangan, atau nama destinasi wisata lainnya seperti
Macan putih , Disamping itu metafora – metafora baru
terkadang muncul dan itu sengaja dibuat oleh masyarakat. Tujuannya agar dengan
metafora tersebut lebih bisa banyak menarik para wisatawan untuk berkunjung ke
suatu destinasi tersebut. Tujuan penciptaan metafora tersebut bertujuan untuk
memberikan kesan yang menarik, unik tentang gambaran keindahan dari objek- objek destinasi wisata yang terdapat
di Banyuwangi.
.jpeg)
Contoh dalam
metafora mialnya; menggambarkan keindahan pesona Triangle
Diamond atau Segitigas Berlian di Banyuwangi. Misal : saya sangat takjub dan hampir tidak
bisa berkata -kata pada saat kupandang
empat gambar segitiga berlian tersebut dan saya mnenemukan si cantik
berwarna putih yang tumbuh diseputaran Gunung Ijen. Dan sayapun hanya
bisa melihat tapi tidak bisa mengambilnya. Si putih yang terdapat di lereng
gunung ijen itu tidak lain adalah bunga edelweis . Sehingga kalimat- kalimat
seperti ini terkadang sering muncul dalam tulisan- tulisan yang menceritakan
para wisatawan baik langusng maupun tidak langsung. Sehingga dari kalimat tersebut secara tidak
langsung bisa menmbah ketertarikan para
wisatawan selanjutnya untuk segera mengunjungo destinasi tersebut.
Kutipan bahasa yang digunakan dalam mempromosi
destinasi wisata serti “ Segityiga
berlian”. Pada ungkapan frasa segitiga berlian merupakan ungkatan untuk membuat
rasa penasaran terutama pada para wisatawan tentang apa yang dimaksud segitiga
berlian tersebut dan terdapat apa saja pada destinasi – destinasi tersebut
mengingat berlian merupakan level tertinggi suatu barang dan juga memilki kesan
yang sangat luar biasa bagusnya, menariknya serta status sosialnya.
Dalam melakukan
promosi wisata maka wacananya juga harus jelas tidak hanya berkaitan dengan
gaya bahasa seperyi metafore atau simile, teapi juga kohesinya karena antara
ketiganya tersebut dipadu dengan gambar, brosur yang indah dan menarik dengan
tujuan untama yaitu untuk menarik imajinasi para wisatawan untuk semakin penasaran terhadap destinasi wisata yang dipromosikan (
Dann, 1996).
Semiotika dalam kajian keilmuan linguitik secara makro
memiliki peran yang sangat penting
terhadap promosi pariwisata. Karena pariwisata memerlukan promosi visual
yang menarik . Seperti hambat Visual berikut ini.
Sehingga pada unsur linguistik makro
maka gambar ini masuk katagori
linguitsik landscape dimana didalamnya memiliki banyak pesan dan kesan yang
bisa dianalisis melalui semiotik. gambar
tersebut dipadu dengan warna gunung,
pohon, bisa menggambarkan keadaan dari gunung tersebut sehingga bisa menjadi
daya Tarik tersendiri melalui kesan
gambar tsb.
Promosi wisata tidak
hanya mempromosikan hal yang berkaitan dengan destinasi alam, seni, budaya,
adat tetapi kerajinan tangan dan kuliner juga merupakan destinasi wisata yang
bisa dilakukan oleh para wisatawan. Sehingga dengan demikian jelas bahwa tampa
adanya kemampuan Bahasa baik dari sisi
mikro maupun makro linguistik. Seperti
morfologi, sintaksis dll
Komentar